JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 3.2
Assalamuaikum wr.wb
Berikut pengalaman saya selama
mengikuti pembelajaran modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber
Daya. Jurnal refleksi ini saya tulis sebagai media untuk mendokumentasikan
perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya lakukan.
Model refleksi yang saya pakai adalah Model 1: 4F (Facts, Feelings,
Findings, Future)/4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan).
1. Peristiwa (Fact)
Di modul 3.2 ini, saya dibekali
pengetahuan mengenai pengelolaan sumber daya dengan ABT (Aset Based
Thinking). Kegiatan pengkajian LMS ini menggunakan Alur Merdeka. Diawali
dengan Mulai dari Diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi 1, Ruang Kolaborasi
2, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi dan
diakhiri dengan Aksi Nyata.
Modul 3.2, Pada kegiatan alur
Merdeka pertama, saya disajikan pada tema “Mulai dari Diri” yang memuat
pertanyaan-pertanyaan reflektif sesi mulai dari diri antara lain:
Mengingat-ingat ekosistem,
bayangkan sekolah atau salah satu sekolah tempat Bapak dan Ibu bertugas. Apa
bagian-bagian yang ada dari sekolah tersebut sebagai sebuah ekosistem? Apa saja
yang bisa Anda sebut sebagai sumber daya yang dimiliki atau dapat dimanfaatkan
oleh sekolah? Perhatikan untuk tidak terpaku pada hal-hal yang kelihatan.
Refleksikan sosok pemimpin atau kepala sekolah yang memimpin sekolah tersebut.
Apa hal-hal yang paling diingat dari sosok pemimpin tersebut, terkait dengan
perannya di ekosistem sekolah serta pelibatan/pemanfaatan sumber daya yang ada?
Jadi, seperti apa peran pemimpin yang ideal itu, khususnya dalam hal
memanfaatkan semua bagian dari ekosistem dan mengelola sumberdaya yang ada di
dalam dan sekitar sekolah? Silakan refleksikan, posisi diri Bapak dan Ibu dalam
ekosistem sekolah. Sejauh mana Bapak Ibu sebagai guru atau peran lainnya telah
memanfaatkan sumber daya sekolah? Apa saja harapan pada diri Bapak dan Ibu
sebagai seorang pendidik, pemimpin, dan pada murid setelah mempelajari modul
ini?
a. Diri sendiri
b. Murid
c. Sekolah
Apa saja kegiatan, materi,
manfaat, yang Bapak dan Ibu harapkan ada dalam modul ini?
LMS dan kegiatan modul ke depan
karena sebelumnya saya telah melakukan literasi secara mandiri dari pengalaman
yang dipandu dengan pertanyaan-pertanyaan pemantik yang tidak disadari membawa
alur pemikiran CGP berefleksi pada dirinya sendiri dan hal yang ingin
dipelajari lebih lanjut. Tidak lupa akhir modul pertanyaan pemantik adalah
harapan dan ekspetasi bagi murid-murid. Ketika mengungkapkan harapan dan
ekspetasi bagi murid, hal ini sangat begitu emosional ketika saya
menggantungkan asa dan harapan masa depan dengan perbaikan mutu pendidikan bagi
murid-murid binaan saya.
Kegiatan selanjutnya adalah
Ekplorasi Konsep tentang Filsafat Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Ki
Hajar Dewantara tentang pembelajaran holistik dalam filosofi Pendidikan budi
pekerti sebagai berikut: Dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini, Pemimpin
dalam Pengelolaan Sumber Daya menjadi salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan
belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber
Daya menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah terutama dengan di
terapkannya program kurikulum merdeka oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Indonesia. Program ini dapat membuat murid menjadi lebih merdeka
dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan
memaksimalkan potensinya. Harapannya proses penerapan ‘Pemimpin dalam
Pengelolaan Sumber Daya' dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk
membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar.
2. Perasaan (Feelings)
Pada awal sebelum mempelajari
modul, masih merasa bingung dengan praktik pemimpin dalam pengelolaan sumber
daya. Namun, setelah mengikuti alur ekplorasi konsep, ditambah, alur ruang
kolaborasi. Saya menjadi jelas bahwa pemimpin dalam pengelolaan sumber daya
dapat menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan
menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan
perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan
ataupun potensi yang positif. Dengan mengidentifkasi aset atau modal yang
dimiliki oleh sekolah dapat mewujudkan perubahan untuk peningkatan kualitas
pembelajaran
Selanjutnya saya merasa semakin
tercerahkan, saat alur presentasi ruang kolaborasi, semakin paham bahwa jika
pemimpin dalam pengelolaan sumber daya adalah sosok pemimpin yang mampu
menggali kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh suatu komunitas dalam suatu
ekosistem baik itu kekuatan yang berasal dari komponen abiotik maupun biotik.
Seorang pemimpin pembelajaran yang mampu mengelola sumber daya akan memiliki
sikap yang optimis terhadap semua keadaan. Serta memandang setiap hal merupakan
aset yang menjadi modal utama dalam mengembangkannya. 7 modal utama atau aset
tersebut meliputi aset manusia, sosial, fisik, alam/lingkungan, finansial,
politik, agama dan budaya.
3. Pembelajaran (Findings)
Dalam Modul 3.2 tentang Pemimpin
dalam Pengelolaan Sumber Daya saya peroleh antara lain:
Pemimpin pembelajaran dalam
pengelolaan sumber daya adalah sosok pemimpin yang mampu menggali
kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh suatu komunitas dalam suatu ekosistem baik
itu kekuatan yang berasal dari komponen abiotik maupun biotik. Seorang pemimpin
pembelajaran yang mampu mengelola sumber daya akan memiliki sikap yang optimis
terhadap semua keadaan. Serta memandang setiap hal merupakan aset yang menjadi
modal utama dalam mengembangkannya.
Mengutamakan Pendekatan
Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) dalam mengelola sumber daya.
Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) menekankan pada nilai,
prinsip dan cara berpikir mengenai dunia. Pendekatan ini memberikan nilai lebih
pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki
oleh komunitas. Dengan demikian pendekatan ini melihat komunitas sebagai
pencipta dari kesehatan dan kesejahteraan, bukan sebagai sekedar penerima
bantuan. Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat
memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset
tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Kedua peran yang penting ini menurut
Kretzman (2010) adalah jalan untuk menciptakan warga yang produktif.
Pendekatan Pengembangan Komunitas
Berbasis Aset menekankan kepada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat
menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan
potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang
diharapkan akan lebih berkelanjutan. Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis
Aset berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah
komunitas.
Menurut Green dan Haines (2002)
dalam Asset building and community development, ada 7 aset
utama atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama, yaitu:
1. Modal Manusia
Sumber daya manusia yang
berkualitas, investasi pada sumber daya manusia menjadi sangat penting yang
berhubungan dengan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan harga diri
seseorang. Pemetaan modal atau aset individu merupakan kegiatan menginventaris
pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan yang dimiliki setiap warganya dalam
sebuah komunitas, atau dengan kata lain, inventarisasi perorangan dapat
dikelompokkan berdasarkan sesuatu yang berhubungan dengan hati, tangan, dan
kepala. Pendekatan lain mengelompokkan aset atau modal ini dengan melihat
kecakapan seseorang yang berhubungan dengan kemasyarakatan, contohnya kecakapan
memimpin sekelompok orang, dan kecakapan seseorang berkomunikasi dengan
berbagai kelompok. Kecakapan yang berhubungan dengan kewirausahaan, contohnya
kecakapan dalam mengelola usaha, pemasaran, yang negosiasi. Kecakapan yang
berhubungan dengan seni dan budaya, contohnya kerajinan tangan, menari, bermain
teater, dan bermain musik.
2. Modal Sosial
Norma dan aturan yang mengikat
warga masyarakat yang ada di dalamnya dan mengatur pola perilaku warga, juga
unsur kepercayaan (trust) dan jaringan ( networking)
antara unsur yang ada di dalam komunitas/masyarakat. Investasi yang berdampak
pada bagaimana manusia, kelompok, dan organisasi dalam komunitas berdampingan,
contohnya kepemimpinan, bekerjasama, saling percaya, dan punya rasa memiliki
masa depan yang sama. Contoh-contoh yang termasuk dalam modal sosial antara
lain adalah asosiasi. Asosiasi adalah suatu kelompok yang ada di dalam
komunitas masyarakat yang terdiri atas dua orang atau lebih yang bekerja
bersama dengan suatu tujuan yang sama dan saling berbagi untuk suatu tujuan
yang sama. Asosiasi terdiri atas kegiatan yang bersifat formal maupun
nonformal. Beberapa contoh tipe asosiasi adalah berdasarkan keyakinan, kesamaan
profesi, kesamaan hobi, dan sebagainya. Terdapat beberapa macam bentuk modal
sosial, yaitu fisik (lembaga), misalnya asosiasi dan institusi. Institusi
adalah suatu lembaga yang mempunyai struktur organisasi yang jelas dan biasanya
sebagai salah satu faktor utama dalam proses pengembangan komunitas masyarakat.
3. Modal Fisik
Terdiri atas dua kelompok utama,
yaitu:
Bangunan yang bisa digunakan
untuk kelas atau lokasi melakukan proses pembelajaran, laboratorium, pertemuan,
ataupun pelatihan. Infrastruktur atau sarana prasarana, mulai dari saluran
pembuangan, sistem air, mesin, jalan, jalur komunikasi, sarana pendukung
pembelajaran, alat transportasi, dan lain-lain.
4. Modal Lingkungan/alam
Bisa berupa potensi yang belum
diolah dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dalam upaya pelestarian alam dan
juga kenyamanan hidup. Modal lingkungan terdiri dari bumi, udara yang bersih,
laut, taman, danau, sungai, tumbuhan, hewan, dan sebagainya. Tanah untuk
berkebun, danau atau empang untuk berternak, semua hasil dari pohon seperti
kayu, buah, bambu, atau material bangunan yang bisa digunakan kembali untuk
menenun, dan sebagainya.
5. Modal Finansial
Dukungan keuangan yang dimiliki
oleh sebuah komunitas yang dapat digunakan untuk membiayai proses pembangunan
dan kegiatan sebuah komunitas. Modal finansial termasuk tabungan, hutan,
investasi, pengurangan dan pendapatan pajak, hibah, gaji, serta sumber pendapatan
internal dan eksternal. Modal finansial juga termasuk pengetahuan tentang
bagaimana menanam dan menjual sayur di pasar, bagaimana menghasilkan uang dan
membuat produk-produk yang bisa dijual, bagaimana menjalankan usaha kecil,
bagaimana memperbaiki cara penjualan menjadi lebih baik, dan juga bagaimana
melakukan pembukuan.
6. Modal Politik
Modal politik adalah ukuran
keterlibatan sosial. Semua lapisan atau kelompok memiliki peluang atau
kesempatan yang sama dalam kepemimpinan, serta memiliki suara dalam masalah
umum yang terjadi dalam komunitas. Lembaga pemerintah atau perwakilannya yang memiliki
hubungan dengan komunitas, seperti komunitas sekolah, komite pelayan kesehatan,
pelayanan listrik atau air.
7. Modal Agama dan budaya
Upaya pemberian bantuan empati
dan perhatian, kasih sayang, dan unsur dari kebijakan praktis (dorongan utama
pada kegiatan pelayanan). Termasuk juga kepercayaan, nilai, sejarah, makanan,
warisan budaya, seni, dan lain-lain. Kebudayaan yang unik di setiap daerah
masing-masing merupakan serangkaian ide, gagasan, norma, perlakuan, serta benda
yang merupakan hasil karya manusia yang hidup berkembang dalam sebuah ruang
geografis. Agama merupakan suatu sistem berperilaku yang mendasar, dan
berfungsi untuk mengintegrasikan perilaku individu di dalam sebuah komunitas,
baik perilaku lahiriah maupun simbolik. Agama menuntut terbentuknya moral
sosial yang bukan hanya kepercayaan, tetapi juga perilaku atau amalan.
Identifikasi dan pemetaan modal budaya agama merupakan langkah yang sangat
penting untuk melihat keberadaan kegiatan dan ritual kebudayaan dan keagamaan
dalam suatu komunitas, termasuk kelembagaan dan tokoh-tokoh penting yang
berperan langsung atau tidak langsung di dalamnya. Sangat penting kita
mengetahui sejauh mana keberadaan ritual keagamaan dan kebudayaan yang ada di
masyarakat serta pola relasi yang tercipta di antaranya dan selanjutnya bisa
dimanfaatkan sebagai peluang untuk menunjang pengembangan perencanaan dan
kegiatan bersama.
4. Penerapan
Dari modul 3.2 tentang pemimpin
dalam pengelolaan sumber daya yang saya pelajari, saya akan melaksanakan
implementasi di kelas sebagai seorang pemimpin pembelajaran akan mampu
mengoptimalkan apa saja yang dimiliki oleh sekolah yang dapat digunakan untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan minat murid. Sedangkan
implementasinya di sekolah adalah seorang pemimpin pembelajaran akan
memanfaatkan atau mengidentifikasi aset-aset atau modal yang ada di sekolah
untuk mengembangkan dan melaksanakan program-program sekolah dan mewujudkan
visi dan misi sekolah dengan berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah. Dan
implementasi pada masyarakat sekitar adalah seorang pemimpin pembelajaran yang
mampu mengelola sumber daya akan mampu menjalin kolaborasi yang baik dengan
lingkungan sekitar sekolah demi kepentingan dan kemajuan sekolah Sebagai contoh
adalah memanfaatkan aset yang ada di sekolah misalnya saja dalam Kelas
Inspirasi, guru yang memiliki keterampilan, pengetahuan akan mendukung pengelolaan
sekolah. Guru yang terampil menari, terampil di bidang IT, seni suara,
keterampilan berkomunikasi, master of ceremony, seni menggambar, seni melukis,
olahraga, dan lain-lain. Orang tua, dapat menjadi inspirasi, pembicara kelas
orang tua, menjadi tokoh karir yang dapat memotivasi baik secara langsung
maupun tidak langsung, sebagai narasumber atau berbagi praktik baik.
Wassalamuaikum wr.wb
Komentar
Posting Komentar